Sabtu, 24 Januari 2015

Bahasa Inggris Ibarat Sambel dan Ilmu sebagai Nasinya


Apa mau di kata, jangan tanyakan mengapa (?)
Mencela tak ada guna, sedang diri tak jua bisa.
Ingin, ingin, mimpi, mimpi.
Tak terpenuhi tanpa bahasa, sebagai jembatan nyata.

Bagai peraung harap, kelinci yang tak punya gigi, saat akademisi tak bersahabat dengan bahasa Inggris. Bukan sayur namanya jika tanpa garam. Tak terasa nikmat dan hambar. Begitu pun juga para mahasiswa yang menjadi cerminan cendekia muda bagi bangsa. Meski pandai setinggi langit, jika tidak dapat berbahasa Inggris pasti kurang komplit rasanya. Masih adakah yang mempertanyakan mengapa (?)
Pembicaraan terkait urgensi bahasa Inggris dalam balutan era global dibilang klise, tapi diwajibkan. Tak perlu lagi saya berikan embel-embel teori bertingkat, semua akademisi pasti butuh bahasa Inggris. Bahasa Inggris memang menjadi kebutuhan pokok, ibarat nasi itu ilmu, bahasa Inggris itu sambelnya. Terkadang ada yang kecanduan, sampai komat-kamit marah pun terceletuk bahasa Inggrisnya. Tapi ada juga yang kepedesan sampai bibir kepanasan. Karena terlampaui takutnya dengan bahasa Inggris. Maka tak jarang di sekolah bahasa Inggris menjadi mata pelajaran yang ditakuti. Bagi sebagian siswa bahasa Inggris terasa seperti momok tersendiri. Tapi setelah memasuki jenjang kuliah, masuk ke lingkungan civitas akademika, kita perlu mengasah bahasa Inggris.

Bahasa Inggris: Menggagas Kenyataan
Mau beasiswa? Butuh sertifikat bahasa Inggris. Mau lanjut studi? Butuh sertifikat bahasa Inggris. Mau mendaftar perusahaan? Butuh sertifikat bahasa Inggris. Mau pekerjaan? Butuh sertifikat bahasa Inggris. Semua bisa dibeli, tapi proses tidak bisa dibeli. Tapi kemampuan bisa dihargai. Begitu lah keuntungan bagi akademisi jika memiliki skill untuk menguasai bahasa Inggris.
Berbicara pentingnya bahasa Inggris. Tak boleh ketinggalan pula mengenai asal-usul bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional. Meski sejarah asal mula bahasa Inggris sangat panjang, kita dapat menengoknya melalui wawasan sejarah dunia. Britania merupakan kerajaan yang membentuk koloni dan memperluas ekspansi. Bahkan pada abad 19 Inggris pun menjadi negara kolonial yang besar. Walaupun negara-negara bekas koloni Inggris akhirnya merdeka. Tapi negara bekas koloni tersebut menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi. Oleh karena itu bahasa Inggris tampil menjadi bahasa yang layak dalam ranah ekonomi, edukasi, politik, budaya, dan teknologi.
Bahasa Inggris telah mendapatkan predikat global sebagai pemersatu dunia, perdagangan dunia, perjanjian dunia, dan sebagainya. Pendidikan bahasa Inggris tak lagi sekedar wacana yang dikumandangkan tapi sudah menjelma menjadi headline. Munculnya suatu kekuatan global terhadap banyak hal dirasa menghentakkan negara Indonesia yang secara yuridis telah diakui dunia sebagai negara yang merdeka.  Tentu, bahasa Inggris menjadi sangat penting bagi Indonesia untuk mendapatkan perhatian dari dunia. Tak heran jika di kalangan akademisi pun bahasa Inggris menjelma menjadi lauk yang dimakan bersama nasi (ilmu).
Bahasa Inggris pada perkembangan lebih lanjut dalam dunia pendidikan menjadi tak terelakkan. Bahkan dahulu, bermunculan sekolah-sekolah RSBI. Meski tak berjalan sesuai harapan dan akhirnya status RSBI dicabut, tapi kebutuhan akan bahasa Inggris masih sangat perlu. Tapi seriring berjalannya waktu tampilan bahasa Inggris terasa begitu sesak dan pengap. Berjubel merambah prestise, gaya-gayaan”, bahkan sebagai citra agar dikira sebagai akademisi yang intelek. Bahasa Inggris di kalangan akademisi seketika bertransformasi menjadi suatu yang dilembagakan, diformalitaskan, dan ditumpangi oleh kepentingan tertentu.

Karakter yang Mau Belajar
            Bahasa Inggris adalah bahasa yang paling banyak digunakan di dunia dan menjadi bahasa ibu untuk lebih dari 400 juta jiwa di seluruh dunia. Setiap harinya jutaan orang menggunakan bahasa Inggris, baik di tempat kerja, kampus, bahkan di rumah. Jika kita masih berada di masa sekolah atau kuliah, kita masih memiliki waktu untuk mempelajari dan menguasai bahasa Inggris. Belajar bahasa Inggris pada hakikatnya adalah belajar untuk berkomunikasi dengan baik. Manfaat bahasa Inggris dalam dunia akademisi terkait dengan Academic Purpose menjadikan bahasa Inggris adalah materi yang harus kita enyam sejak TK hingga kuliah.
            Bagi seorang mahasiswa banyak ditawarkan kesempatan emas belajar ke luar negeri. Banyak sekali tersedia informasi mengenai lembaga-lembaga baik dalam negeri mau pun luar negeri untuk memberikan beasiswa belajar ke luar negeri kepada para pelajar Indonesia. Salah satu syarat yang harus dimiliki adalah tes TOEFL. Tes TOEFL ini merupakan tes yang mengukur seberapa kemampuan kita dalam bahasa Inggris. Sehingga kita dituntut harus mahir untuk lolos tes ini.
            Selain itu seorang akademisi akan bergelut pada situs-situs dalam bahasa Inggris, jurnal-jurnal Internasional, dan bahan bacaan bahasa Inggris pula. Sehingga bahasa Inggris lagi-lagi menjadi kebutuhan yang penting dalam benteng kehidupan akademisi. Bagi setiap siswa hingga mahasiswa bahasa Inggris layak dikatakan sebagai selling point. Untuk menguasai bahasa Inggris dibutuhkan seseorang yang berkarakter yang mau belajar. Selain keinginan belajar yang tinggi, juga dibutuhkan semangat, passion, gairah, dan motivasi. Hal ini dikarenakan bahasa Inggris bukan suatu yang kilat dan cepat. Tapi membutuhkan pengorbanan waktu, biaya, tenaga, dan pikiran.

Bahasa Inggris: Sebagai Jalan Keluar
             We Academy Saung Inggris hadir di tengah-tengah kita untuk menjadi salah satu motor penggerak, fasilitator, dan wadah bagi kita semua untuk mendalami keterampilan Bahasa Inggris. Bahkan bagi akademisi, bergabungnya kita dengan We Academy Saung Inggris akan sangat membantu bagi mahasiswa-mahasiswa yang ingin berprestasi dan melanjutkan studi baik itu di Luar Negeri maupun Dalam Negeri, sebab We Academy Saung Inggris juga terus memperbarui informasi terkait dengan beasiswa-beasiswa yang ada di Indonesia atau negara-negara lain. We Academy Saung Inggris dengan semboyannya yaitu "Global Language Academy with Local Wisdom Understanding" berlokasi di Jalan Geger Arum 101 Sukasari Isola-Bandung, tepatnya di belakang kampus UPI.
Begitu banyak urgensi bahasa Inggris bagi para akademisi. Ada sebagian yang mengatakannya sulit, sehingga sering dijadikan momok oleh para siswa. Tapi ada tantangan tersendiri bagi akademisi yang ingin mewujudkan mimpinya untuk belajar bahasa yang satu ini.
            Kemajuan peradaban seyogyanya dijadikan sebagai tumpuan dalam proses menuju kebaikan. Bukan hanya arah gaya hidupnya saja yang seakan kita meniru gaya hidup Internasional. Tapi bahasa pemersatu Internasional menjadi syarat mutlak bagi akademisi yang ingin melanjutkan studinya ke luar negeri. Perencanaan memang menjadi suatu yang penting, terlebih untuk kehidupan jangka panjang.
            Bahasa Inggris sebagai jalan keluar? Ya, jalan keluar dari kesulitan. Bahasa Inggris adalah modal untuk menguasai ilmu pengetahuan, untuk menggali materi sesuai disiplin ilmu, dan sebagainya. Sehingga tak mengherankan jika bahasa Inggris menjadi syarat penerimaan beasiswa. Akan banyak ilmu pengetahuan yang akan disantap oleh akademisi dalam bahasa Inggris.
            Setidaknya jika seseorang ingin melanjutkan studi yang lebih tinggi perlu mengantongi sertifikat TOEFL, akan lebih baik jika fasih berbahasa Inggris. Tak ragu banyak lapangan pekerjaan yang akan melirik. Keuntungan menarik bagi akademisi jika menguasai bahasa Inggris tentunya juga bisa menjadi penerjemah. Baik penerjemah yang digaji atau penerjemah bagi kawan-kawan studi lainnya yang kurang dapat memahami ilmu pengetahuan dengan bahasa Inggris. Tak kalah menggiurkan memang, peluang ke Luar Negeri semakin dekat dapat diraih. Sebenarnya di Indonesia memang banyak pemimpi, tapi tak banyak pula yang bangun dari mimpi dan mau mewujudkannya.
Pada hakikatnya tulisan ini dibuat untuk menumbuhkan semangat kita mengenal, mencintai, mempelajari, dan mempraktekkan bahasa Inggris. Sehingga kita mempunyai referensi dalam memilih tempat kursus bahasa Inggris. Dari segala pemaparan yang telah saya jabarkan, setidaknya kita memiliki gambaran akan pentingnya kursus bahasa Inggris. Maka We Academy Saung Inggris adalah solusi bagi kita untuk menjalani kursus bahasa Inggris dengan harga yang terjangkau. Bahkan kehadiran We Academy Saung Inggris terbuka lebar bagi seluruh kalangan masyarakat.
            Kini tinggal kita bagaimana meletakkan bahasa Inggris sebagai sebuah kebutuhan, keperluan, atau segala sesuatu yang sifatnya wajib tapi diformalitaskan. Sedikit ironi, jika segala sesuatu hanya dianggap formalitas, sebab ini akan membentuk generasi pemalas. Mari bersemangat dalam belajar!

Penulis: Peserta Lomba Essay Tingkat Nasional Kampung Inggris Bandung
#Hubungi lebih lanjut:
www.wisdomnesiaenglish.com
/085659932860 / 7efa9b71
Best Regards|

Kamis, 22 Januari 2015

Resolusi 2015 “Bersahabat dengan Alam”

“Aku bisa melihat tanda-tanda.
Tak jemu aku melihat tanda-tanda.
Hijaumu pudar kelabu.
Mengikis senyum alam kita…”
Pembahasan mengenai alam dan lingkungan tak pernah habis kita upayakan. Tapi pembahasan saja tidak cukup jika kita masih juga berpangku tangan. Alam adalah suatu paradoks bagi kita. Di satu sisi menjadi tumpuan hidup bagi kita. Di sisi lain dapat melumat kehidupan kita. Tak pelak seringkali kita mendengar banyak berita mengenai kerusakan lingkungan. Baik secara alamiah mau pun yang berasal dari dampak kecerobohan manusia kita. Masyarakat era modern ini dikenal sebagai masyarakat yang acuh tak acuh terhadap lingkungan. Era pembangunan menjadi pemacu timbulnya banyak masalah lingkungan. Mengapa? Pembangunan yang hebat tidak selalu mengutamakan dampak lingkungan yang dihasilkan dari pembangunan itu. Meski begitu, bukan pembangunan yang kita hindari, malainkan suatu temuan-temuan baru bagaimana upaya pembangunan tersebut tetap membuat lingkungan terjaga.

Konservasi Sebagai Ruang Realitas
Berbicara mengenai lingkungan hijau, terbesit mengenai konservasi. Konservasi dikemukakan oleh Theodore Roosevelt pada awal abad ke-19. Konservasi ini berasal dari dua kata yaitu con (together) dan servare (keep/save) yang berarti merupakan upaya memelihara sesuatu yang dimiliki dengan cara bijaksana. Pada intinya menurut Joko Sutarto konservasi adalah pewarisan nilai-nilai budaya yang bertujuan untuk merevitalisasi nilai luhur, karakter, dan budaya bangsa melalui pembelajaran yang mengedepankan kaidah-kaidah etika. Sehingga konservasi dapat ditegaskan sebagai sebuah upaya, gagasan, cita-cita, dan pelaksanaan pelestarian alam. 
Saya adalah satu dari sekian ribu mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Negeri Semarang (UNNES).

 
 UNNES sendiri merupakan kampus yang menggelontorkan kebijakan mengenai konservasi dengan perluasan tujuh pilar unit kerja yaitu keanekaragaman hayati, pengelolaan limbah, kebijakan nikertas, energi bersih, (etika, seni, dan budaya), dan kaderisasi konservasi. 

 
Secara otomatis semua warga UNNES menjadi pelopor atau memikul amanah dipundaknya dalam kaderisasi konservasi. Terlebih lingkungan kita yang seringkali tak bersahabat oleh karena eksploitasi dan kecerobohan masyarakat dalam mengabaikan kebersihan lingkungan hidup kita.

Resolusi Hijau 2015

Lomba blog yang diadakan oleh The Nature Conservancy merupakan salah satu pemantik bagi kita semua untuk membulatkan tekat menjadi manusia yang mencintai alam dan melestarikan kehidupan. Dengan adanya ajang ini, maka secara sadar atau tidak peserta yang ada di dalamnya akan merasa bahwa dia mengemban tanggungjawab dalam Resolusi Hijau 2015 yang telah dibuatnya. Dalam ajang ini pula saya sebagai mahasiswa Kampus Konservasi akan membagikan Resolusi Hijau 2015. Buat kalian yang ingin melakukan hal yang sama silahkan akses ke http://www.nature.or.id.
Resolusi Hijau 2015 saya adalah pertama, menjadi pelopor untuk membuang sampah pada tempatnya. Setiap hari kita menghasilkan sampah dapur. Pihak kebersihan sudah menyediakan tempat sampah sesuai dengan kategori yaitu organik dan non organik. Meski begitu masih banyak sekali dari kita yang mengabaikan hal sepele semacam itu. Sehingga kita perlu memliki rasa kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya.
Kedua, menjadi pelopor dan pemantau keluarga saya dalam menghemat energi listrik. Saya akan berusaha memupuk kesadaran yang lebih tinggi untuk menghemat energi listrik. Begitu juga untuk keluarga saya yang seringkali lalai dalam menggunakan energi listrik. Misalnya menyalakan lampu kamar non stop setiap hari, menonton televisi non stop meskipun terkadang tidak ada yang menonton, dan mengecas laptop atau handphone melebihi batas. Hal-hal semcam itu sering kita lakukan. Tapi ada baiknya kita menjadi orang yang sadar diri dan menguranginya.
Ketiga, menciptakan lingkungan hijau. Di rumah saya ada sedikit pekarangan. Kini sudah ada beberapa pohon mangga, pohon pisang, dan berbagai jenis sayuran atau tanam-tanaman hias. Di tahun 2015 ini semoga keadaan ini bisa terus terjaga dan bahkan akan tercipta lebih asri. Minimal ini adalah cerminan kecil dari RTH (Ruang Terbuka Hijau). Jika dikembangkan di wilayah yang lebih luas, khsusunya di daerah perkotaan. Tentu hal ini akan sangat membantu.

Penggabungan Dua Varian
Varian pertama adalah varian kehidupan kampus. Ide mengenai konservasi, yang kemudian dilaksanakan oleh seluruh mahasiswa di kampus saya. Berbagai kebijakan dan berbagai upaya pelestarian lingkungan yang diemban oleh kampus saya. Beberapa contoh implementasi konservasi di kampus saya adalah penanaman pohon bagi seluruh warga UNNES, pengurangan asap kendaraan bermotor di lingkungan kampus, dan upaya-upaya lainnya.
Setelah pulang ke rumah saya memasuki hidup saya bersama keluarga. Di sini lah varian ke dua. Bagaimana saya dan keluarga dapat melestarikan lingkungan kecil, minimal di sekitar rumah. Dengan menjadi manusia yang sadar diri dalam membuang sampah di tempatnya, mengurangi energi listrik secara berlebihan, dan menciptakan lingkungan hijau.
Penggabungan dua kehidupan yang berbeda ini diharapkan dapat membentuk kaderisasi konservasi yang peduli dengan lingkungan dan melahirkan aktor-aktor pecinta lingkungan berikutnya. Sehingga generasi penerus dapat membentuk suatu kehidupan yang cinta dan menjadi penjaga alam dengan ketulusan bukan dengan embel-embel lainnya.
Lomba Blog #ResolusiHijau2015

Rabu, 29 Januari 2014

KAUM MUDA BICARA INDONESIA: Kolaborasi (Kecerdasan SDM Lokal) dan Meritokrasi



Kolaborasi Local Genius (Kecerdasan SDM Lokal) dan Meritokrasi: Memberikan Penghargaan Setinggi-tingginya Bagi SDM Bangsa Sendiri yang Berkualitas
Oleh Malisa Ladini, Ilmu Politik UNNES
Sahabat pemuda, saatnya tabuh genderang prestasi, demi pakar-pakar bangsa yang kuat. Dengan belalakan mata mengais masa depan bangsa, tak ada kata “santai-bergantung”, tak ada kata “urakan”, dan tak ada lagi “diskriminasi”. Berkenaan dengan tema “Dari Keunggulan Sumber Daya Alam menuju Keunggulan Sumber Daya Manusia” yang terkandung dalam pesan (artikel berjudul) “Titik Cerah dalam Transformasi SDM Kita” di www.darwinsaleh.com, saya berpandangan bahwa saya setuju dengan “upaya KESDM mencanangkan program transformasi SDM Indonesia dengan mendorong perusahaan ESDM untuk lebih mengaktifkan program pelatihan tenaga kerja di desa-desa agar lebih berkualifikasi."Karena langkah ini merupakan tonggak dari kualitas SDM bangsa Indonesia ke depannya. 
Kemudian saya berpikir untuk mencetuskan ide  Kolaborasi Local Genius (Kecerdasan SDM Lokal) dan Meritokrasi: Memberikan Penghargaan Setinggi-tingginya Bagi SDM Bangsa Sendiri yang Berkualitas. Ini sangat penting untuk menumbuhkan semangat memperbaiki negara Indonesia ini. Kalau memang anak bangsa sendiri mampu, kita bisa mandiri tanpa harus menyewa ahli dari luar negeri. Kalau anak bangsa sendiri juga mampu mengelola SDA negara kita kan juga merupakan nilai plus.
Bukan kalimat yang asing bagi kita, dari kalangan masyarakat menengah ke bawah yang mengatakan “Kita hidup di negara sendiri, tapi seperti di hegemoni bangsa lain. Bos-bos perusahaan besar kebanyakan orang luar negeri, sedang kita jadi buruhnya.” Itu semua sering membuat kita geram, tak jarang banyak yang melakukan aksi demo, utamanya di kalangan pemuda dan kritikus. Mereka semua menghendaki PERUBAHAN, tak jarang mencaci-maki bangsanya sendiri. Seperti yang saya baca dalam artikel berjudul “Bersikap Positif Dalam Transformasi Bangsa” di www.darwinsaleh.com, saya setuju dengan artikel yang mengutarakan “Boleh saja kita sedang kecewa dan prihatin pada situasi dan SDM negara kita, boleh saja ada yang menganggap Indonesia menuju negara gagal kalau melihat berbagai ukuran dan fenomena yang kasat mata, tetapi janganlah sedemikian pesimistik hingga terkesan mencemooh bangsa sendiri.” Karena sebenarnya semua itu bisa dirintis jika ada Kolaborasi antara Local Genius dan Meritokrasi tanpa harus dengan menggunakan banyak aksi “jotos”. Kekerasan keributan dan diskriminasi hanya membuang-buang waktu, sebab kita sendiri harus mempersiapkan diri bagaimana menjadi pakar yang tangguh. Ke depan tantangan bangsa akan semakin berat, adanya pasar bebas dan kencangnya arus globalisasi membuat kita semua harus siap.
Kunci yang harus kita pegang dalam nilai-nilai yang harus kita ilhami dari Kolaborasi Local Genius (Kecerdasan SDM Lokal) dan Meritokrasi adalah sebagai berikut:
Kecerdasan SDM Lokal
a.       Menggerakkan potensi SDM lokal dalam negeri. Pemberian  wadah-wadah yang bersifat menggali dan mencari ahli-ahli dalam negeri. Mendorong suksesnya Balai Latihan Kerja (BLK) untuk membentuk tenaga kerja Indonesia yang unggul dan bermartabat. Bukan hal yang tak mungkin akan banyak bertumbuh tenaga kerja yang ahli dari bawah. Pemberian reward penting untuk memotivasi siapa-siapa saja yang telah berhasil menerapkan ilmu dan keterampilan yang diajarkan dalam pelatihan tersebut. Ini juga akan memicu motivasi bagi siapa-siapa saja yang belum mengikuti pelatihan dan menginginkan hal yang sama.
b.      Pemberian apresiasi terhadap anak bangsa yang berprestasi, baik di bidang akademis dan non akademis. Kiranya ini dilakukan oleh semua lembaga pendidikan mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA, dan Pergruan Tinggi. Baik lembaga pendidikan negeri mau pun swasta. Sejengkal apresiasi adalah kobar sulut api semangat bagi anak didik di negeri ini. Sehingga tidak ada lagi guru yang tidak mempunyai tanggungjawab moral bagi anak didiknya, mereka perlu merangkul muridnya dan peduli akan kualitas anak didiknya. Sebab guru yang berkualitas akan melahirkan murid yang berkualitas pula.
c.       Titik cerah peningkatan SDM kita juga sudah bisa kita lihat dari banyaknya pemberian beasiswa dari tingkat SD hingga Perguruan Tinggi. Namun masih saja terlihat banyak anak bangsa yang tidak terwadahi. Mereka hidup di jalanan dan bekerja dalam usia yang seharusnya masih sekolah. Seperti yang saya kutip dari Plato bahwa “Negara wajib mendidik rakyatnya. Sebab kebijakan adalah pengetahuan.” (Schmandt 1960).
Meritokrasi
Meritokrasi adalah bentuk pemerintahan atau administrasi dimana pemimpin yang dipilih berdasarkan kemampuan. Terkadang sistem ini sangat jauh dipraktekan di Indonesia, melihat fakta di lapangan banyaknya orang yang “menyogok”, “titipan”, dan cari muka untuk menempati suatu jabatan tertentu. Itu tak asing lagi, seringkali saya atau kebanyakan kami melihat fenomena semacam itu, faktor uang, relasi, dan kedekatan menjadi jurus jitu. Akibatnya banyak orang yang seharusnya lebih berhak dan lebih mampu menduduki profesi tersebut harus tergeser pada praktek nepotisme yang sedemikian rupa. Ada hal-hal yang harus dipraktekan dalam sistem yang meritokrasi, sebagai berikut:
a.      Penilaian Berdasarkan Kerja
Sebagai bentuk pemerintahan, meritokrasi berusaha mencari orang yang memiliki kemampuan dan kualitas terbaik melalui saringan ketat dan FAIR. Setelah terpilih sosok-sosok yang terbaik untuk menduduki suatu posisi baik sekolah maupun pekerjaan, utamanya (pemerintahan), mereka akan mendapatkan penghargaan bagi yang berprestasi.
b.      Tidak Terpaku Senioritas
Meritokrasi bisa membawa seseorang yang bersungguh-sungguh maju dan jabatannya terus meningkat sesuai dengan apa yang ia kerjakan tanpa harus terhalang oleh tingkatan senioritas yang ketat.
c.       Nilai Plus Bagi yang Kerja Keras dan Berkemauan Tinggi
Meritokrasi memberikan peluang yang luas untuk meningkatkan etos tenaga kerja yang tinggi bagi setiap individu. Jadi, majunya suatu pemerintahan tidak melulu pada wadahnya melainkan personal orang-orang yang ada di dalamnya. Untuk itu ini menjadi salah satu penarik bagi rakyat agar mau kerja keras dan ikut serta memajukan bangsa.
Kita harus sadar diri sebagai warga negara! Berkenaan dengan ini ada pesan dari (artikel) yang sangat saya setujui, artikel tersebut berjudul “Berterimakasihlah Kepada Bumi Tempat Berpijak” di www.darwinsaleh.com. Ada cerita ironis dari PS, salah satu 10 besar konglomerat terkaya di Indonesia memberi hibah $20,5 juta kepada Universitas Harvard yang merupakan sumbangan ke-5 terbesar dalam 74 tahun terakhir yang diterima mereka. Aneh sekali diulas oleh Boston.com dan Al-terity.blogspot.com, mengapa semua dana itu tidak diberikan saja pada Universitas di Indonesia. Karena angka sebesar itu akan lebih berguna apabila digunakan untuk mengefektifkan Balai Latihan Kerja (BLK) di negeri sendiri. Tentu itu semua akan menjadi semangat dan apresiasi untuk anak didik di Indonesia. Perlu disadari bahwa penghargaan setinggi-tingginya bagi SDM bangsa sendiri jauh lebih penting.
Seperti yang sudah kita ketahui, sadari, dan rasakan sendiri betapa enaknya hidup di bumi pertiwi ini. Alam yang ringan ibaratnya lagu Koes Plus “Kata orang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.” Itu yang melesatkan pikiran saya ketika masa-masa SD di mata pelajaran IPS yang saya dapatkan dulu. Guru saya dan orang tua saya menceritakan bahwa Indonesia adalah negara agraris, maritim, pernah menjadi macan asia, pernah menjadi negara swa sembada, dan lain-lain. Semua itu benar-benar membuat saya rindu, kapan lagi Indonesia akan terdengar gaung prestasinya. Apa yang saya lihat sekarang? Seringkali saya mendapati teman wanita yang masih usia anak sekolah sudah berkeluarga. Akibatnya mereka kebingungan bagaimana cara menghidupi dan mencukupi kebutuhan anaknya. Itu semua karena kurangnya keahlian di usia muda. Sedang banyak pria di kampung halaman saya yang berpangku tangan, tidak bekerja, dan mengendarai motor “ugal-ugalan” di jalanan, mereka berpikir itu semua hebat? Keren? Lalu dimanakah etos tenaga kerja kita? Wajah menyedihkan juga terlihat dari birokrasi kita, sekian banyak kasus korupsi yang disiarkan melalui berita baik online, televisi, dan cetak. “Kongkalikong” terjadi dimana-mana, lembaga dan organisasi di isi oleh orang-orang tak baik. Ibaratnya “Koruptor tua yang melahirkan bayi-bayi koruptor” saja. Semua itu karena tidak adanya meritokrasi di negeri ini. Hampir semua berwarna abu-abu yang hitam tak semuanya hitam dan yang putih tak semuanya putih, hanya sekedar menginginkan sebuah pengakuan semata. Banyak pakar-pakar yang luput dari sorot kamera, sebab semua yang kita lihat sebagian besar hanyalah bentuk pencitraan semata. Akal bulus, tipu muslihat, dan mobokrasi semakin terlihat. Mobokrasi terdiri dari dua kata seperti yang saya baca dalam www.leadershippark.com yaitu “mob” yang berarti gerombolan, dan “krasi” yang berarti kedaulatan dan kekuasaan. Karena sebagai tempat berhimpunnya masyarakat yang brutal, maka mobokrasi bersifat kontra demokrasi. Mobokrasi merupakan pemerintahan yang dipimpin oleh orang yang tidak bisa bekerja di pemerintahan itu sendiri, terdiri dari rakyat jelata yang miskin ilmu dan tidak pengalaman. Baik rakyat pemilih maupun yang dipilih adalah mereka yang tidak terkualifikasi secara pendidikan, memiliki moral buruk, dan mental yang rapuh. Sehingga dalam pemerintahan seringkali menimbulkan kekacauan dan ketidakpastian.
Demikian ide yang saya sumbangkan melalui artikel ini, semoga bisa memberikan pencerahan bagi kemajuan bangsa Indonesia ke depan. Kolaborasi Local Genius (Kecerdasan SDM Lokal) dan Meritokrasi: Memberikan Penghargaan Setinggi-tingginya Bagi SDM Bangsa Sendiri yang Berkualitas sangat penting sebagai tonggak perbaikan tenaga kerja dan SDM di segala bidang. Sebab bila cara ini tidak gencar diterapkan, negara kita yang kaya SDA justru akan semakin porak-poranda karena tidak dikelola oleh SDM yang tepat. Jika ada anak bangsa yang mumpuni di suatu bidang apa pun itu, perlu kiranya diwadahi, difasilitasi, dan diberdayakan semaksimal mungkin. Sehingga ada cambuk tersendiri bagi anak bangsa untuk terus berprestasi dan menjadi ahli-ahli yang sesuai dengan bidang yang ditekuni dan disukainyaa. Kemudian berlakukan meritokrasi di segala bidang akan betul-betul menyaring bibit unggul yang berkualitas sesuai dengan bidang masing-masing. Jika sebagian besar pihak memberlakukan meritokrasi saat merekrut pegawainya, tentu akan ada titik cerah bagi martabat Indonesia selanjutnya. Sebab meritokrasi mengedepankan proses dan hasil kerja setiap individunya.
 
Referensi:
Scmandt, Henry. 1960. Filsafat Politik. Terjemahan Ahmad Baidlowi. Yogyakarta:  
           Pustaka Pelajar

Sumber Gambar:
Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari www.darwinsaleh.com. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan.
Salam Pemuda! Optimis! Segar Pikiran! Segar Karya! Sumbangsih untuk Bangsa!

Melesat Sat Set Bersama JNE: Perjalanan Menggapai Mimpi dari Pelosok Desa Hingga Kampus S3

  Hidup di pelosok desa kecil di Jawa Tengah bukan berarti harus pasrah pada keterbatasan. Justru dari titik inilah, saya membuktikan bahwa ...